Kamis, 20 September 2018

biografi sayidah Nafisah, Kairo


Sayyidah Nafisah


Sayyidah Nafisah adalah salah satu keturunan rasulullah Saw.,  beliau lahir di kota Makah pada tahun 145 H, akan tetapi hidup dan besar di kota Madinah. Beliau merupakan putri imam hasan al-Anwar bin zaid bin imam Hasan bin imam Ali Ra.
Pada tahun 193 H beliau hijrah dari Madinah ke Mesir bersama  suaminya Ishaq al-Mu’tasim  bin Ja’far as-Sadiq. Penduduk mesir sangat gembira mendengar kabar akan Hijrahnya sayyidah nafisah ke Mesir. Bagi mereka, sayyidah nafisah adalah ahlu bait nabi yang  alim dan mereka percaya akan karamahnya.  Mereka selalu berduyun-duyun mendatangi rumah sayyidah nafisah, berdesakan mendengarkan mauidzohnya dan memohon doanya. Hal ini membuat suaminya khawatir dan berfikir untuk mengajaknya  pindah ke tanah hijaz. Namun beliau menolak dan menjawab: “Aku tidak bisa pergi ke Hijaz karena aku bermimpi bertemu dengan rasulallah, beliau berkata kepadaku,” Janganlah kamu pergi dari Mesir karena nanti Allah akan mewafatkanmu di sana(Mesir).

Sayyidah Nafisah dan Imam Syafi’i
Sejarah sepakat bahwasanya sayyidah Nafisah semasa dengan imam Syafi’i. Ketika imam syafii berguru kepada imam Malik di Madinah, pada waktu itu sayyidah nafisah juga masih tinggal di Madinah dan tak jarang beliau ikut mendengarkan majlis yang di bawakan oleh imam malik yg bertempat di masjid Nabawi. Tak lama setelah sayyidah Nafisah hijrah ke Mesir, beberapa tahun kemudian Imam syafi’i juga hijrah ke Mesir setelah sebelumnya beliau ke baghdad (Iraq). Keduanya pun saling menghormati, bahkan diceritakan bahwa imam syafi’i meriwayatkan hadist dari sayyidah Nafisah. Setiap berkunjung ke rumah sayyidah Nafisah, Imam syafi’i dan pengikutnya sangat menjunjung tinggi adab dan sopan santun terhadap beliau, begitu juga sebaliknya. Setiap terkena penyakit, Imam Syafi’i selalu mengirim utusan ke sayyidah Nafisah agar bekenan mendoakan kesembuhanya. Setelah itu imam syafi’i mendapatkan kesembuhan. Suatu hari ketika Imam syafi’i  tertimpa penyakit yang menyebabkan beliau wafat, sayyidah nafisah bilang pada utusan imam syafi’i{dikatakan;wktu itu adl istri imam syafi’i sendiri} : “Semoga Allah memberi kenikmatan pada syafi’i dengan melihat-Nya”. Ahirnya tak lama beberapa waktu kemudian Imam Syafi’i wafat. Sebelum wafat imam Syafi’i berwasiat, agar jenazahnya di salatkan juga secara khusus di rumah sayyidah Nafisah.

Keutamaan Sayyidah Nafisah
Salah satu keutamaan sayyidah nafisah adalah selama hidupnya beliau telah mengahatamkan al-Quran sebanyak 4000 x. Selain itu zainab, keponakan beliau bercerita,”Aku melayani bibiku selama 40 tahun, aku tidak pernah melihat beliau tidur di Malam hari dan berbuka di siang hari. Aku menanyakan hal ini padanya, mengapa bibi tidak pernah menyayangi diri bibi?, beliau menjawab;” Bagaimana aku menyayangi diriku sedang dihadapanku banyak aral melintang dan hanya bisa diatasi oleh orang-orang yang mendapat kemenangan?.

Karamah Sayyidah Nafisah
Karamah sayyidah Nafisah banyak sekali, salah satunya yang paling masyhur adalah ketika keluarga Yahudi tinggal di dekat krdiaman Sayyidah Nafisah di Mesir. Keluarga itu mempunyai seorang  anak perempuan yang lumpuh. Suatu ketika ibu anak itu bilang:”Nak kamu mau apa?. Si anak tiba-tiba bilang,:”aku ingin ke tempat perempuan mulia tetangga kita itu bu”. Si ibu pun Kemudian meminta izin kepada sayyidah nafisah dan beliau memperkenankan mereka datang ke kediamannya. Sianak didudukan di pinggir rumah dan ketika datang waktu salat dzuhur, sayyidah Nafisah beranjak untuk berwudlu di dekat gadis kecil itu. Air wudlu beliau mengalir ke tubuh anak kecil tersebut, kemudian anak kecil itu dg sendiriny mengusap anggota tubuhnya dengan air berkah tersebut. Seketika itu juga ia sembuh dan bisa berjalan seperti tidak pernah sakit sama sekali.

Wafatnya Sayyidah Nafisah
Ketika sayyidah nafisah merasakan ajalnya semakin dekat, beliau menulis surat wasiat untuk suaminya dan beliau menggali kuburnya sendiri di rumahnya. Beliau turun ke liang kubur itu, memperbanyak salat dan menghatamkan al-Quran sebanyak 109 kali. Kalau tidak mampu berdiri beliau shalat dengan duduk, memperbanyak tasbih  dan menangis. Beliau meninggal pada hari jumat bulan Ramadan , saat beliau membaca al-Quran dan sampai pda lafadz lahum daarus salaami inda rabbihim wahuwa waliyyuhum bima kaanu ya’maluun ( Bagi mereka (disediakan) tempat kedamaian(surga) di sisi Tuhannya dan Dialah pelindung mereka disebabkan amal2 saleh yg selalu mereka kerjakan {QS.al-An’am;127},. Setelah membaca ayat tersebut beliau pingsan kemudian di dekap oleh keponakannya (zainab) dan menghembuskan nafas terahirnya.
Sayyidah Nafisah  di makamkan di rumahnya sendiri (di liang kubur yg beliau gali) dan sekarang selain makam, rumah beliau  juga di bangun Masjid dengan nama “Masjid sayyidah Nafisah” ( nisbat kepada beliau). Masjid dan makam tersebut terletak di kota Kairo , tepatnya di kairo lama (fustat) atau sekitar 3 KM dari rumah penulis.
Makam dan masjid sayyidah Nafisah selalu ramai di kunjungi para peziarah baik dalam maupun luar negeri. Banyak ulama dan Masyarakat mesir yang meninggal minta di salatkan di masjid sayyidah nafisah sebagaimana dulu imam Syafi’i minta di salatkan di sini. Sampai-sampai sebagaimana pengalaman penulis ketika ziarah dan salat di masjid sayyidah nafisah, selalu ada saja jenazah yang akan disalatkan, terutama setelah salat fardlu.













darrasa,kairo, 22,01,2018

Mohamad Falih Irfan