Sayyidah Nafisah
Sayyidah
Nafisah adalah salah satu keturunan rasulullah Saw., beliau lahir di kota Makah pada tahun 145 H,
akan tetapi hidup dan besar di kota Madinah. Beliau merupakan putri imam hasan
al-Anwar bin zaid bin imam Hasan bin imam Ali Ra.
Pada
tahun 193 H beliau hijrah dari Madinah ke Mesir bersama suaminya Ishaq al-Mu’tasim bin Ja’far as-Sadiq. Penduduk mesir sangat
gembira mendengar kabar akan Hijrahnya sayyidah nafisah ke Mesir. Bagi mereka,
sayyidah nafisah adalah ahlu bait nabi yang alim dan mereka percaya akan karamahnya. Mereka selalu berduyun-duyun mendatangi rumah
sayyidah nafisah, berdesakan mendengarkan mauidzohnya dan memohon doanya. Hal ini
membuat suaminya khawatir dan berfikir untuk mengajaknya pindah ke tanah hijaz. Namun beliau menolak
dan menjawab: “Aku tidak bisa pergi ke Hijaz karena aku bermimpi bertemu dengan
rasulallah, beliau berkata kepadaku,” Janganlah kamu pergi dari Mesir karena
nanti Allah akan mewafatkanmu di sana(Mesir).
Sayyidah
Nafisah dan Imam Syafi’i
Sejarah
sepakat bahwasanya sayyidah Nafisah semasa dengan imam Syafi’i. Ketika imam
syafii berguru kepada imam Malik di Madinah, pada waktu itu sayyidah nafisah
juga masih tinggal di Madinah dan tak jarang beliau ikut mendengarkan majlis
yang di bawakan oleh imam malik yg bertempat di masjid Nabawi. Tak lama setelah
sayyidah Nafisah hijrah ke Mesir, beberapa tahun kemudian Imam syafi’i juga
hijrah ke Mesir setelah sebelumnya beliau ke baghdad (Iraq). Keduanya pun
saling menghormati, bahkan diceritakan bahwa imam syafi’i meriwayatkan hadist
dari sayyidah Nafisah. Setiap berkunjung ke rumah sayyidah Nafisah, Imam
syafi’i dan pengikutnya sangat menjunjung tinggi adab dan sopan santun terhadap
beliau, begitu juga sebaliknya. Setiap terkena penyakit, Imam Syafi’i selalu
mengirim utusan ke sayyidah Nafisah agar bekenan mendoakan kesembuhanya.
Setelah itu imam syafi’i mendapatkan kesembuhan. Suatu hari ketika Imam
syafi’i tertimpa penyakit yang
menyebabkan beliau wafat, sayyidah nafisah bilang pada utusan imam syafi’i{dikatakan;wktu
itu adl istri imam syafi’i sendiri} : “Semoga Allah memberi kenikmatan pada
syafi’i dengan melihat-Nya”. Ahirnya tak lama beberapa waktu kemudian Imam
Syafi’i wafat. Sebelum wafat imam Syafi’i berwasiat, agar jenazahnya di
salatkan juga secara khusus di rumah sayyidah Nafisah.
Keutamaan
Sayyidah Nafisah
Salah
satu keutamaan sayyidah nafisah adalah selama hidupnya beliau telah
mengahatamkan al-Quran sebanyak 4000 x. Selain itu zainab, keponakan beliau
bercerita,”Aku melayani bibiku selama 40 tahun, aku tidak pernah melihat beliau
tidur di Malam hari dan berbuka di siang hari. Aku menanyakan hal ini padanya,
mengapa bibi tidak pernah menyayangi diri bibi?, beliau menjawab;” Bagaimana
aku menyayangi diriku sedang dihadapanku banyak aral melintang dan hanya bisa
diatasi oleh orang-orang yang mendapat kemenangan?.
Karamah
Sayyidah Nafisah
Karamah
sayyidah Nafisah banyak sekali, salah satunya yang paling masyhur adalah ketika
keluarga Yahudi tinggal di dekat krdiaman Sayyidah Nafisah di Mesir. Keluarga
itu mempunyai seorang anak perempuan
yang lumpuh. Suatu ketika ibu anak itu bilang:”Nak kamu mau apa?. Si anak
tiba-tiba bilang,:”aku ingin ke tempat perempuan mulia tetangga kita itu bu”.
Si ibu pun Kemudian meminta izin kepada sayyidah nafisah dan beliau
memperkenankan mereka datang ke kediamannya. Sianak didudukan di pinggir rumah
dan ketika datang waktu salat dzuhur, sayyidah Nafisah beranjak untuk berwudlu
di dekat gadis kecil itu. Air wudlu beliau mengalir ke tubuh anak kecil
tersebut, kemudian anak kecil itu dg sendiriny mengusap anggota tubuhnya dengan
air berkah tersebut. Seketika itu juga ia sembuh dan bisa berjalan seperti
tidak pernah sakit sama sekali.
Wafatnya
Sayyidah Nafisah
Ketika
sayyidah nafisah merasakan ajalnya semakin dekat, beliau menulis surat wasiat
untuk suaminya dan beliau menggali kuburnya sendiri di rumahnya. Beliau turun
ke liang kubur itu, memperbanyak salat dan menghatamkan al-Quran sebanyak 109
kali. Kalau tidak mampu berdiri beliau shalat dengan duduk, memperbanyak tasbih dan menangis. Beliau meninggal pada hari
jumat bulan Ramadan , saat beliau membaca al-Quran dan sampai pda lafadz lahum daarus
salaami inda rabbihim wahuwa waliyyuhum bima kaanu ya’maluun ( Bagi mereka
(disediakan) tempat kedamaian(surga) di sisi Tuhannya dan Dialah pelindung
mereka disebabkan amal2 saleh yg selalu mereka kerjakan {QS.al-An’am;127},.
Setelah membaca ayat tersebut beliau pingsan kemudian di dekap oleh
keponakannya (zainab) dan menghembuskan nafas terahirnya.
Sayyidah
Nafisah di makamkan di rumahnya sendiri
(di liang kubur yg beliau gali) dan sekarang selain makam, rumah beliau juga di bangun Masjid dengan nama “Masjid
sayyidah Nafisah” ( nisbat kepada beliau). Masjid dan makam tersebut terletak
di kota Kairo , tepatnya di kairo lama (fustat) atau sekitar 3 KM dari rumah
penulis.
Makam
dan masjid sayyidah Nafisah selalu ramai di kunjungi para peziarah baik dalam
maupun luar negeri. Banyak ulama dan Masyarakat mesir yang meninggal minta di
salatkan di masjid sayyidah nafisah sebagaimana dulu imam Syafi’i minta di
salatkan di sini. Sampai-sampai sebagaimana pengalaman penulis ketika ziarah
dan salat di masjid sayyidah nafisah, selalu ada saja jenazah yang akan
disalatkan, terutama setelah salat fardlu.
darrasa,kairo, 22,01,2018
Mohamad Falih Irfan
