Rabu, 26 Februari 2020


Pesona Kairo; Kota tertua di Dunia




      Ketika ditanya kota bersejarah apa yang paling tua di dunia?  Yah,kairo adalah salah satunya. Sebagai kota tua,Kairo sendiri telah memulai sejarah sejak milleniun ke-4  sebelum masehi. Tepatnya ketika fir'aun mendirikan kota memphis, selatan pusat kota sekarang. Sayangnya  seluruh kota yg dibangun masa sejarah permulaan dan awal masehi hampir dikatakan telah punah(walaupun masih ada berbagai peninggalannya seperti candi-candi dan piramid). Yang bisa  disaksikan sekarang  adalah wujud kota kairo yang dibangun sejak masa futuh islami (abad pertengahan),kairo masa muhammad Ali dan era sekaramg. Karenanya kota kairo dapat kita klasifikasikan menjadi tiga periode: periode pertengahan, periode Mohamad Ali, dan periode kontemporer.
1. kairo abad pertengahan

     Pembangunan kairo abad pertengahan dimulai sejak futuh (ekspansi)  tahun 20 H/ 641 M yang dilakukan oleh sahabat Amr bin Ash . Amr bin Ash mendirikan kota islam pertama di Afrika bernama Fustath. Amr bin ash jg membangun masjid (sekarang dinamakan masjid Amr bin Ash) yg mana menjadi masjid pertama di benua Afrika .Kota ini terus maju dan berkembang sebagai pusat penyebaran islam di Afrika sampai berahirnya kekuasaan dinasti muawiyah.
     Ketika dinasti Abbasiyah berkuasa, khalifah abi abbas abdullah as-Safah menunjuk abdul Malik bin Yazid sbg  gubernur Mesir. Ketika menjabat, abdul Malik membangun kota Askar (Th 133 H/ 756 M) yg kemudian ia jadikan sebagai pusat pemerintahannya   menggantikan kota fustat.
Waktu silih berganti, Mesir pun jatuh ke tangan dinasti thuluniyah. Ahmad bin thulun (pendiri dinasti thuluniah) pun  membangun kota baru bernama "Qathai" yg mana nantinya dijadikan sebagai pusat pemerintahan. Kota yg di bangun tahun  256 H/ 870 M tersebut berdampingan dengan kota Askar.
Boleh jadi sebuah kebanggan kalau  setiap penguasa atau dinasti punya dan membangun ibukotanya sendiri. Sehingga tak jauh berbeda dengan pendahulunya, ketika  tahun 358 H/ 969 M dinasti fatimiyah menguasai Mesir juga membangun ibukota baru yang bernama al-Qahirah (kairo). Ibu kota ini terbilang cukup megah, bahkan seluruh penjuru kotanya dipagari tembok. Di pusat kota  dibangun masjid megah bernama al-Azhar. Dari nama ibu kota inilah asal usul penyebutan kota Kairo digunakan sampai saat ini.
 menara bab zuwayla


kota kairo dilihat dari menara bab zuwayla,tampak
 masjid ali pasha yg terletak didalam benteng salahudin 

Dinasti fatimiyah berkuasa di Mesir sekitar dua abad, kekuasaannya runtuh ketika salahudin al-Ayyubi berhasil menguasai Mesir dengan mendirikan dinasti Ayyubiyah. Sultan salahudin al-Ayyubi sadar bahwasanya kemegahan seorang penguasa bukan dengan kemampuan membangun kota, tapi dengan kesanggupan  menjaga persatuan umat. Ahirnya pd tahun 572 H/1176 M  shalahuddin menggabungkan keempat kota yg di bangun pendahulunya sebagai ibukota dinastinya.
     Kemudian ketika dinasti mamalik berkuasa, kota kairo terlihat semakin bugar, megah, tertata rapi hingga dinasti Usmaniyah.
Bangunan megah kairo abad pertengahan masih bisa kita nikmati sampai saat ini; walaupun ada beberapa yang sudah tidak terawat sebagaimana yang saya lihat.  Setiap dinasti membangun kota dengan arsitektur khas dinastinya yang menjadikan kota  kairo bagaikan museum arsitek islami terbesar di dunia.
bab zuwayla(gerbang kota kairo sebelah selatan))
      Keseluruhan bangunan yang dibangun dinasti islam itu memanjang pada dua jalan utama kota. Pertama: Syare’(Jalan) al-Muiz yang di mulai dari bab zuweyla sebelah selatan, hingga bab Futuh sebelah utara. Kedua: Syare’(Jalan) marsina dan saleba yang dimulai dari bundaran (Maidan) sayyidah zainab sebelah barat, hingga bundaran benteng (Qol'ah) sebelah timur melewati masjid ahmad bin tulun. Alhamdulillah, kedua (tempat-tempat bersejarah) ini dekat dengan apartemen yang saya tinggali selama kuliah di al-Azhar. Jadi hampir setiap hari bisa menyaksikan keindahan  bangunan bersejarah (museum berjalan) ini tanpa perlu naik angkutan umum.



 
Era baru kehidupan Mesir dimulai pada permulaan abad ke-19 M. Mohamad Ali sebagai penguasa modern pertama, memainkan politik terbuka terhadap budaya barat. Ahirnya hal ini berdampak pada corak kehidupan masyarakat, bahkan corak barat ini  berimbas pada bangunan dan arsitektur kota.
Ketika chedive ismail berkuasa, ia mulai berfikir menjadikan kota kairo sebagai kota kosmoplitan di Afrika. Pusat pemerintahan dipindahkan dari Qal'ah (benteng  Salahudin) ke Istana Abidin. Pusat kota wasthu al- balad (Downtown) pun didirikan. Pusat kota baru ini dibangun dengan meniru arsitektur paris yang dengan jelas bisa kita saksikan sampai sekarang.
 Awal abad ke-20 pemerintah mulai melakukan pembangunan dikawasan pinggiran sungai nil. Garden City dan Zamalek dibangun sebelah barat, Maadi sebelah selatan dan heliopolis sebelah utara.  Keempat kawasan ini punya style eropa yg berbeda-beda. Graden city dan Zamalek meniru arsitektur prancis dan italia. Sedangkan Maadi meniru villa-villa pedalaman inggris. Namun berbeda dengan kawasan Heliopolis, tempat dimana istana kepresidenan dibangun. Corak arsitektur eropa tak jauh terasa, namun dipadukan dengan arsitektur islami.
Demikian kota kairo abad pertengahan bergaya arsitektur murni, sedangkan kota alaweyad atau khedivian hampir sepenuhnya bergaya eropa.
Pada ahir abad ke-20, pertumbuhan penduduk semakin meningkat dan industrialisasi pun kian pesat. Pemerintah mesir ahirnya  membuka kawasan hunian baru. Kawasan informal ini dimulai dengan  pembangunan "Nasr City", muhandiseen dan sekitarnya, sedangkan kawasan 6 oktober(sittah oktober) sebagai kota industri dan satelit.
Awal abad ke-21 pemerintah mulai menggarap pembangunan al-Qahirah al-Jadidah (Kairo baru) dan menertibkan kawasan kumuh.
Sekarang, jika kita ke Qatameya dan melewati kawasan ini,  kita akan merasakan berada di Kairo baru (modern) . Berbagai pusat perbelanjaan, sekolah, akademi-akademi modern dan bangunan megah lainnya turut menghiasi kawasan baru ini, termasuk ardlu el-ma’arid (kawasan pameran buku;internasional)  yang baru Jadi tahun kemarin. Jadi,  jangan heran jika kita melewati kawasan ini seolah bukan sedang berada di Mesir.
Untuk mahasiswa indonesia sendiri kebanyakan tinggal di kawasan Nasr City khususnya di distrik sepuluh( (Hay Asyir)   dan sebagian lagi di Darrasah (kawasan universitas dan masjid al-Azhar) tempat  dimana saya tinggal. Alasan saya memilih tinggal di kawasan darrasah, karena selain dekat dengan kampus dan masjid al-Azhar yang mana banyak majelis talaqqi (tempat kajian) yang diampu langsung oleh masyayikh azhar, darrasah juga menurutku adalhahtempat istimewa yang penuh dengan pesona sejarah melewati  satu dinasti (kerajaan) ke dinasti islam lainnya.
Mungkin itu sekelumit cerita tentang Kota Kairo dengan segala pesonanya.  Saking tua dan bersejarahnya, Kota ini nggak pernah bisa habis kalau diceritakan.

aktivitas warga kairo


 






























 



Jumat, 21 Februari 2020


                              Tiga serangkai yg harus dimiliki seorang penuntut ilmu


Syaikh prof. Ma'bad Abdul Karim (Guru besar universitas al-Azhar bidang hadis) mengungkapkan bahwasanya seorang pencari ilmu harus mempunyai tiga unsur  ini, yaitu:
1. Regulasi waktu :seorang penuntut ilmu harus bisa mengatur waktunya dengan baik

2.Niat yg ikhlas : seorang penuntut ilmu harus memiliki niat yang ikhlas, mencari ilmu karena Allah, bukan karena (mengejar) ijazah (lisence), adapun mendapatkan ijazah adalah bonus
3. Tekad yg kuat : pencari ilmu harus punya tekad (kemuan )yg kuat, selalu merasa membutuhkan ilmu dan mencari sesuatu yang baru (dalam keilmuan)













-